"Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak seorang ulama, maka jadilah seorang penulis" - Al Ghazali

Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 September 2019

Memacu Investasi di Indonesia

Awal September 2019, Bank Dunia (The World Bank), mengeluarkan sebuah rilis yang berjudul: "Global Economic Risks, and Implications for Indonesia". Tak ayal, rilis ini langsung menghebohkan jagat dunia investasi di Indonesia yang memang sedang mengalami slowdown (perlambatan), dan potensi tekanan akan adanya resesi global.

Lalu, pertanyaan yang kemudian timbul adalah, apa penyebabnya?



Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman kondisi capital outflow, yakni posisi CAD (current account deficit), melambung hingga mendekati angka psikologis 3 persen dari jumlah PDB. Tentu, hal ini menjadi perhatian serius karena negara Indonesia sendiri di lain sisi juga sedang gencar-gencarnya menggenjot pembangunan di dalam negeri.

Kondisi demikian, juga diperparah dengan rendahnya capaian PMA (Penanaman Modal Asing) Indonesia yang hanya mencapai $22 miliar dari target akhir tahun yakni sebesar $33 miliar. Sedangkan untuk investasi Indonesia di luar negeri baru mencapai $5 miliar. Angka ini masih menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Indonesia untuk menutup defisit yang cukup lebar (diperkirakan total $16 miliar), serta menggenjot laju investasi dengan mendapat capital inflow yang ekstra.

Dalam perspektif makro, CAD (current account deficit) memang dapat menggambarkan kondisi perekonomian suatu negara yang memiliki stabilitas dari risiko monetersetidaknya dalam jangka pendekdengan catatan Penanaman Modal Asing mendominasi sektor riil yang dapat menghasilkan produk berdaya ekspor atau menghasilkan devisa bagi Indonesia.

Pertubuhan GDP yang masih mengalami fluktuasi menambah beban berat economic growth Indonesia dalam beberapa waktu mendatang (setidaknya sampai 2022). Data dari BPS, CEIC dan World Bank mengungkapkan bahwa pada tahun 2020, proyeksi potential output growth dari GDP Indonesia berada pada kisaran 4.9-4.6 persen. Menurun dari tahun 2018 di angka 5.2 persen dan proyeksi di akhir tahun 2019 sebesar 5 persen.

Pelemahan (slowdown) dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, sejatinya hanya salah satu dampak dari akumulasi global slowdown dan kekhawatiran akan terjadinya resesi global (diperkirakan tahun 2020). Hal ini tidak terlepas dari semakin memanasnya trade-war antara negara ekonomi besar seperti US-China, dan risiko geopolitik yang merambah sampai ke berbagai negara lainnya.

Data menjelaskan lebih lanjut bahwa risiko yang ditimbulkan adalah terjadinya krisis. Jika melihat kondisi saat ini, tentu bukan hal yang mengada-ada bahwa telah terjadi pelbagai gejolak yang mendorong kecemasan dalam perekonomian global, seperti: pemilu US, realisasi Brexit, demonstrasi menolak ekstradisi di Hongkong, krisis Argentina, Turki, Kashmir, tensi antara Jepang dan Korea, sanksi Iran dan shadow war dengan Israel, serta gejolak lainnya yang bisa saja muncul.

Solusi yang menjadi pilihan bagi Indonesia untuk dapat survive di tengah arus perekonomian global yang menghadapi ketidakpastian adalah dengan mendorong FDI (foreign direct investment), bukan dengan mengurangi current account deficit atau CAD yang berada di kisaran 3 persen. FDI diharapkan dapat menjadi stimulus dalam mendatangkan investasi-investasi baru di Indonesia.

Hal berikutnya yang menjadi catatan bagi Indonesia, adalah bagaimana upaya yang dilakukan Pemerintah untuk meyakinkan investor asing agar mau menanamkan modalnya di Indonesia. Tantangan yang dihadapi bukan lagi persoalan klise seperti isu politik, namun lebih kepada tataran teknis seperti persoalan perizinan, kemudahan bisnis, dan kepastian hukum. Ketiga hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Sebagaimana negara lain yang telah melakukan reformasi total dalam kebijakan ekonominya, Indonesia sampai saat ini jelas masih jauh tertinggal.

Indonesia menempati posisi cut-off dalam rantai nilai (suppy chain) produk manufaktur global. Sehingga, komoditas dan produk ekspor yang dihasilkan Indonesia, belum banyak membantu menyelamatkan perekonomian negara karena sewaktu-waktu dapat dikalahkan atau tergantikan oleh produk serupa dari negara lain. Hal ini tidak terlepas dari posisi Indonesia yang hanya mengisi rantai manufaktur globalsebagian besardengan komoditas (bukan teknologi).

Jika dilihat secara umum, komoditas yang diunggulkan oleh Indonesia yakni komoditas subsektor perkebunan, sebutlah kelapa sawit (sebagai biofuel), dan karet (sebagai komponen parts). Kemudian menyusul produk sektor pertambangan seperti nikel, besi, dan tembaga sebagai campuran bahan material. Pun demikian, harga sebagian besar komoditas tersebut terus tertekan oleh produsen di negara lainnya. Hal ini dikarenakan adanya perjanjian dagang yang disepakati oleh negara tertentu. Perjanjian ini dapat membuat bea dan tarif yang lebih murah serta mengikat antar negara yang bekerja sama. Sebagai contoh, negara yang telah berhasil membuat perjanjian dagang yang kompetitif antara lain: Vietnam, Thailand, Malaysia dan Singapura. Bila Indonesia tidak cermat dalam membuat perjanjian dagang semacam ini, maka tidak mengherankan bila komoditas ekspor Indonesia semakin terpuruk harga dan posisinya di pasaran global.

Untuk memacu investasi berkesinambungan di Indonesia, diperlukan serangkaian upaya konkret dan revolusioner. Investor tidak mau memasuki suatu negara yang tidak memiliki kepastian hukum dan pengurusan izin yang terlalu birokratis. Di Indonesia, pemerintah telah melakukan langkah inisiatif yakni menyederhanakan perizinan dengan kebijakan OSS (Online Single Submission). Akan tetapi pada praktiknya di lapangan masih banyak permasalahan yang perlu dibenahi.

Oleh karena itu, sebagai bangsa yang besar dan memiliki populasi terbesar ke-4 di dunia, Indonesia perlu untuk melakukan pembenahan secara total. Solusi yang perlu diperhatikan adalah mulai secara bertahap melakukan penguatan pada prinsip Ease of Doing Business (EoDB), diiringi dengan melepas ego-sektoral, yang secara simultan juga menyelaraskan langkah bersama antara pemangku kebijakan di tingkat pusat, daerah, maupun stakeholders terkait. Dengan didukung serangkaian program yang terukur seperti insentif dan perjanjian dagang yang dapat memacu laju investasi di Indonesia secara berkelanjutan. Maka, diharapkan investasi di Indonesia dapat melaju, serta menggerakkan sendi-sendi perekonomian negara menjadi lebih kuat dan lebih matang dalam menghadapi tantangan perekonomian global.

_______
Sumber:

- The World Bank (2019). "Global economic risks and implications for Indonesia". Report on September, 2019: The World Bank IBRD-IDA.

Muhammad Yazid Ulwan,
Staff Riset di FP2SB/GAPKI-IPOA

Share:

Sabtu, 30 September 2017

Pemberantasan Korupsi dan Pentingnya Dukungan Publik

Tertanggal 29 September 2017 lalu, Setya Novanto atau yang sering dipanggil "Papah", salah satu tersangka kasus korupsi megaproyek E-KTP, memenangkan sidang putusan Praperadilan di PN Jakarta Selatan. 

Saya kebetulan menyempatkan hadir dan menyaksikan langsung sidang tersebut. Namun, tak banyak yang bisa saya perbuat. Hanya menggerutu, marah, heran sekaligus geram atas putusan hakim Cepi Iskandar yang memimpin jalannya sidang. Di tengah-tengah penjagaan ketat aparat keamanan, ditambah banyaknya para jurnalis dari media massa yang hadir, semakin memanaskan ruang sidang Oemar Seno Adji di Pengadilan Negeri Jaksel yang penuh sesak saat itu.

Apa yang saya bisa lakukan setelahnya?, 
menangis? tentu bodoh sekali rasanya. Apalagi cuma menyinyir sana-sini yang tiada arti. Mari, sudahi pertikaian guna menuju suatu cita besar kita: berantas kasus-kasus korupsi di Indonesia.

Kembali ke topik bahasan, Pemberantasan Korupsi dan Pentingnya Dukungan PublikSaya teringat sebuah pesan yang tidak asing di telinga saya, entah siapa yang pernah mengucapkannya, kurang lebih seperti ini;
"Memberantas tikus berdasi tak semudah memberantas tikus di ladang, apalagi jika sendirian. Maka kita harus menggalang kekuatan bersama untuk bisa memberantasnya".
Ilustrasi mural oleh: Komunitas Cicak (Cinta Indonesia Cinta Anti Korupsi)

Korupsi: Budaya yang Mengakar

Sudah sering terdengar pejabat-pejabat negara yang tersandung kasus korupsi. Mulai yang bermain angka dengan proyekannya, tukar guling, suap menyuap, sampai dengan cuci kaki uang. Tak terkira berapa banyak macam bentuk korupsi yang ada di dunia, pun dengan terma-terma yang berbeda memahami apa itu korupsi. Saya tidak ingin berlarut membahas arti "corruptio" dan kawanannya. Satu hal yang tidak boleh berubah: Korupsi tetaplah korupsi, ia kejahatan. Sekecil apapun.

Berbicara mengenai korupsi, saya berani jamin bahwa kita tidak ada yang pernah luput dari motif korup, atau dalam konteks yang lebih jelasnya adalah pada masa kini. Setidak-tidaknya kita pernah melakukan praktik curang dan menyalahi kelaziman. Itulah salah satu bentuk korup kita, maka tak jarang orang kemudian kerap mencari aman dengan diksi pengganti semacamnya. Kalau lah opini saya mengada-ada, saya kira tidak perlu berlelah diri menuliskannya.

Lantas, apa yang menjadikan korupsi seksi untuk diperbincangkan?
Jawabannya terletak pada siapa yang memainkan peranan tersebut. Perbedaan yang mencoloknya tentu dari posisi yang dimiliki oleh si pelaku. Semakin strategis dan besar nama yang diemban, semakin banyak pula publik membicarakannya. Di sini kita bisa menemukan relevansi pepatah: "semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang berhembus". Tentu, dalam konteks yang berbeda dari biasanya, ibaratkan posisi tinggi yang dimiliki koruptor ialah pohonan tinggi, dan pohonan itu diterpa angin kencang (badai) hingga goyah, atau bahkan tumbang. Saat itu lah pemberitaan besarnya tersebar.

Fantasi Kepentingan

Setiap tindakan adalah konsekuensi dari sebuah kepentingan. Secara gamblang, kita bisa mengidentifikasi kasus-kasus korupsi yang ada sebagai buah dari koruptor yang tengah gelap mata oleh bermacam kepentingan. Dari motif korupsi yang ada, selalu bermuara pada motif ekonomi dan politik—atau notabenenya kepentingan pribadi maupun kelompok.

Sebetulnya, kedua hal ini tidak begitu berbeda, motif ekonomi cenderung dipengaruhi adanya kepentingan untuk mencapai kemakmuran dari penguasaan faktor produksi dan finansial. Sebaliknya, motif kepentingan juga bisa membuat celah terbukanya jalan keputusan yang membuat pihak tertentu diuntungkan. Jika melihat kasus-kasus korupsi belakangan ini, banyak yang bermain adalah para politisi dan rekanan kerja yang sama-sama memiliki kepentingan. Di sisi yang berlainan, masyarakat hanya menjadi penonton dari aksi tersebut. Bisa jadi, masyarakat tidak mengetahui sama sekali.

Inilah pekerjaan kita, sebagai masyarakat. Tidak ada lagi yang dapat menghentikan praktik korup dari para koruptor kelas berat di negeri ini kecuali kekuatan dari publik (kita sendiri).

Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Di Indonesia, ada lembaga yang dibentuk sejak tahun 2002 untuk menangani secara khusus kasus korupsi, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kinerjanya sejauh ini cukup memuaskan publik, terhitung lebih dari Rp. 1,3 triliun uang hasil korupsi ditindak oleh KPK. Meskipun nada sumir sering terdengar karena baru sekitar 730 miliar rupiah yang berhasil KPK kembalikan kepada negara, namun kita tak boleh lupa, pencegahan juga sangat penting dan berdampak dalam menyelamatkan keuangan negara.

Dari data yang dipublikasikan KPK (kpk.go.id), diestimasikan sekitar Rp. 270 triliun uang negara telah berhasil diselamatkan dari potensi korupsi. Masalahnya memang tak sekadar besaran uang, namun pada efektivitas kerja dari lembaga anti korupsi ini dalam menggagalkan upaya korupsi. Wacana belakangan, santer terdengar rencana dari DPR untuk merevisi UU KPK melalui Revisi Undang-Undang No. 30 tahun 2002, tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Hal ini mengindikasikan adanya upaya pelemahan terhadap lembaga antirasuah ini. Meski sering kali, DPR berkilah adanya revisi justru untuk mengawasi kinerja KPK dan menguatkan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Pentingnya Dukungan Publik

Kita ketahui bersama, KPK bukan lembaga yang sempurna. Banyak kasus yang mandek hingga kini seperti; BLBI, Century, RS Sumber Waras, Reklamasi Teluk Jakarta, dan lain sebagainya. Namun, ketidaksempurnaan ini tak perlu dibahas berlarut-larut. Keterbatasan penyidik, alat bukti dan sumber daya penunjang lainnya menjadi penting untuk mengusut kasus-kasus yang ada. Dugaan semata atau intrik politis tidak banyak membantu penyelesaian masalah, karena semua dilakukan due process of law. 

Bila melihat kinerja KPK dari aspek kelembagaan, Laporan Keuangan KPK selalu memiliki Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Demikian juga dengan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi pemerintah (LAKIP), selama enam tahun sejak tahun 2010, KPK memperoleh Nilai A. Sebuah capaian yang baik dan tentunya patut diapresiasi. Selain itu, lembaga ini meraih penghargaan peringkat pertama Keterbukaan Informasi Badan Publik Tahun 2016 kategori Lembaga Non Struktural (LNS) dari Komisi Informasi Pusat (KIP). Tentunya, capaian yang baik ini tidak diraih begitu saja, sudah panjang perjalanan KPK hingga bisa mendapat predikat tersebut. Ini yang saya kira bisa dijadikan pegangan bagi publik untuk tetap bisa mempercayai, serta memberi dukungan pada KPK.

Mari berikan waktu pada semua pihak untuk bekerja secara maksimal, setidaknya publik juga dapat ikut serta mengawal. Tidak ada salahnya bila mendukung dan mendorong lembaga anti korupsi yang tetap konsisten setidaknya sampai dengan detik ini. Ingat pula bahwa public power masih sangat dibutuhkan untuk bisa menolong negeri ini dari upaya pendelegitimasian lembaga dan pihak-pihak yang anti terhadap korupsi.

Kita mesti banyak belajar, agar tidak melulu terkungkung pada perbincangan yang tiada habis. Semua berperan dan bertanggungjawab atas cita bersama: pemberantasan kasus-kasus korupsi secara tuntas di Indonesia. Semoga bukan mimpi di siang bolong.

Mahasiswa dan segenap rakyat, bersatulah!
___________________________________
Muhammad Yazid Ulwan,
Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM Fakultas Ilmu Administrasi UI 2017

Sumber:
1). Mural Komunitas Cicak (Cinta Indonesia Cinta Anti Korupsi), "Berantas Tikus!" https://image.slidesharecdn.com/muralpresentationedit-111221101357-phpapp02/95/mural-14-728.jpg?cb=1324462868
2). Anggaran KPK dan Uang yang Diselamatkan, http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/06/22/orxzcm-anggaran-kpk-lebih-besar-dari-uang-yang-diselamatkan
3). KPK Selamatkan Uang Negara, https://www.kpk.go.id/id/berita-sub/2641-kpk-selamatkan-uang-negara-rp-270-t
Share:

Selasa, 17 Januari 2017

Menakar Syak Wasangka

Hidup di tengah masyarakat yang heterogen terlebih sebuah kota besar, memiliki banyak cerita dan tantangan tersendiri bagi tiap individu. Ragam cerita, beragam pula masalah dan solusi penyelesaiannya.

Berbicara tentang demografi dan kaitannya dengan etnisitas, fakta terdapat lebih dari 1.340 suku bangsa di Indonesia menandakan bahwa ada begitu banyak keyakinan dan adat istiadat masyarakat di bumi pertiwi ini. Hal ini kemudian dianggap sebagai sebuah "kekayaan" bagi Indonesia yang mungkin tidak ditemui (atau hanya sedikit) di negara-negara belahan dunia lainnya.

Bila saya tarik waktu mundur dua dekade kebelakang, yakni kurun waktu 1990-an. Maka, ada banyak peristiwa-peristiwa atau konfik yang mewarnai perjalanan sejarah di Indonesia pada era pra-millenial. Konflik ini bermula baik dari daerah kota maupun desa, dan ihwal permasalahannya sama, konflik horizontal. Dalam cara pandang sosiologis, konflik ini biasa dikaitkan dengan masalah primordial. Begitulah pernyataan diatas kertas latarbelakang munculnya masalah sosial bangsa yang akut ini. PBB mencatat sebanyak 75% dari konflik besar yang terjadi di dunia saat ini berakar pada dimensi kultural (etnis dan kebudayaan).

Saya bukan saksi hidup yang hafal seluk-beluk perjalanan sebuah bangsa. Namun, catatan sejarah telah mendeskripsikan dengan runut ada banyak sekali terjadi konflik yang bermain di ranah hilir (sila- dicek). Hal ini membuka mata dan pikiran kita bersama bahwa memang ada yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini, bahkan dalam scope yang terbilang kecil!. Sebutlah contoh itu konflik antar suku, konflik antar-ummat beragama, maupun konflik antar kelas (golongan), mungkin juga antar kampung?. Ah, apapun itu, semua seakan sama-sama tidak ada habisnya.

--Lalu, apa yang sebetulnya menjadi permasalahan ini?
Penyebabnya ialah rasa "Syak wasangka". 
syak n: rasa kurang percaya (sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu). 
wasangka/wa·sang·ka/ n: kebimbangan hati; rasa khawatir; kecurigaan;
Dari arti kata, boleh jadi disimpulkan bahwa syak wasangka adalah ketidakpercayaan seseorang atas diri dan orang lain, serta menaruh rasa kecurigaan (ketidaksukaan).
Ini bisa dikaitkan dengan istilah rasa berburuk sangka, karena keduanya memang hal yang tidak dipisahkan secara etimologi: sangka.

Pict: "what causes prejudice?"
(www.reference.com/world-view/causes-prejudice-ff38fd3c76a674b)


Mengapa syak wasangka?
Misalnya saja, konflik antar etnis dan antar golongan yang sering terjadi, kalau didalami lagi biasanya bermula dari permasalahan sederhana nan kecil, misalnya perorangan (individu). Lalu yang menjadi 'minyak' dalam api konflik itu adalah rasa syak wasangka dan soliditas in-group serta labelling out-group pada golongan tertentu. Akhirnya, satu orang di kelompok itu menaruh kecurigaan terhadap orang di kelompok lain, menyebarluas hingga menjadi menjadi konflik yang lebih besar.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memiliki penilaian buruk dan menaruh rasa kecurigaan (syak wasangka) terhadap orang lain, antara lain sebagai berikut;

1. Adanya kategorisasi sosial, (Aku, kamu, kita & mereka)
Hal pertama penyebab  prejudice  ini adalah  terjadinya  kategorisasi; yakni masyarakat cenderung mengelompokkan orang berdasarkan karakteristik tertentu, seperti gender, kebangsaan, etnis, dan sebagainya. Itu pula yang melahirkan konflik sosial berkepanjangan, bahkan dimulai dari pembedaan pengelompokan manusianya!.

*Ilustrasi: "In groups-out groups" :D
(https://theunrecordedman.wordpress.com/2015/07/04/in-groups-out-groups/)


2. In-Group Bias

In-Group Bias adalah perasaan positif dan perlakuan istimewa seseorang kepada orang lain yang dianggap bagian dari in-group, serta perasaan negatif dan perlakuan yang tidak adil terhadap orang yang dianggap sebagai bagian out-group. Henri Tajfel (1982), menggarisbawahi motif utama dari solidaritas dalam kelompok, yaitu self-esteem: Individu berusaha meningkatkan self-esteem (harga diri) dengan cara mengidentifikasi dirinya ke dalam kelompok sosial tertentu.

3. Kegagalan berpikir logis
Belakangan ini, sering dijumpai berita Hoax dan orang-orang yang reaktif terhadap sebuah permasalahan, hal ini juga berkaitan dengan lemahnya kemampuan bernalar seseorang. Atau sopannya, ia bernalar namun kurang mau membuka diri dengan hal yang logis karena dianggap bertentangan dengan apa yang ia yakini. Kegagalan berpikir logis (the failure of logic/fallacy), menjelaskan bahwa ada suatu keadaan di mana emosi seseorang mengalahkan logikanya (untuk menerima argumen dan hal-hal yang logis).

Wait, wut?.. :
(http://www.quickmeme.com/meme/356f48)


4. Kuatnya Stereotip
Pada dasarnya stereotype merefleksikan keyakinan budaya mengenai hal tertentu. Tidak selalu negatif, tapi notabene orang menilai sebagai pandangan yang miring untuk pembenaran terhadap evaluasi orang lain. Individu dapat menginternalisasi stereotype tersebut dan menggunakannya sebagai bagian dari skema yang dimilikinya. Jika individu tidak percaya (stereotip), ia dengan mudah akan mengakui bahwa itu sebagai kepercayaan yang didukung oleh orang-orang lain.

Selain beberapa faktor diatas, adapula faktor mendasar yang barangkali sudah jadi kebiasaan sebagian besar kita. Perasaan jadi "benar" sendiri.
Kadang banyak dari kita berdalih, "benar itu yang penting gue gak ganggu lo atau dia"
Apa iya..?

Memang, sebuah kebenaran punya banyak variabel dan kriteria tersendiri. Bisa jadi, antara satu orang dengan orang lainya punya penilaian sendiri tentang apa yang dianggapnya "benar". Begitu pula dengan kesalahan. Tetapi, perlu digarisbawahi bahwa, yang namanya benar tidak hanya sebatas "gue gak ganggu", coba ditambahin lagi dengan "gue gak ganggu, dan gue (juga) sejalan dengan nilai yang ada di sini". Jika halnya seperti diatas, barulah terwujud suatu kebenaran yang relevansinya nyata, atau katakanlah diakui sebagai sebuah nilai. Dengan demikian, perasaan "syak wasangka" mungkin saja tidak hadir. Mengapa? karena orang itu sendiri yang memang tidak menghadirkan prasangka ini.

Pict: "betrayal"
(http://9gag.com/gag/aYN8gPN)


--Kembali membahas musabab konflik. Bilamana rasa syak wasangka tidak ditundukkan dengan seperangkat nilai yang diamini bersama, justru hal ini yang bukan tidak mungkin akan terus menciptakan kegaduhan. Ambil-lah contoh akhir-akhir ini, banyak orang yang perangainya biasa saja di dunia nyata, namun seakan tahu segalanya di dunia maya (padahal nyata juga). Membagi postingan ini-itu di media sosial yang mereka punya. Tapi, belum tentu ia paham dengan isinya, apalagi validitas informasi tersebut. Maka, ada baiknya demi meredam rasa sangka-sangkaan ini, di crosscheck kembali segala informasi yang kita dapat. Saya yakin, pun bila terjadi konflik, (setidaknya) hanya menimbulkan korban-korban hoax dan korban bully saja, hhe.. Yang pasti, jangan sampai menimbulkan korban jiwa!.

Oleh karena itu, sebagai akhir dari tulisan ini, yuk mari kita jadikan setiap diri kita sebagai orang yang penuh prasangka positif kepada sesama. Saling mengingatkan dengan teman, sahabat, orang-orang dekat kita, begitu pula dengan orang lain yang kita jumpai. Kuatkan ikatan kebersamaan. Karena membenci dan menaruh curiga pada seseorang biasanya sesaat, maka lebih baik mawas diri dan bijak untuk sepenuhnya menuai manfaat. InsyaAllah


Pict by: African Proverb
(http://weheartit.com/entry/164186076)


Demikian tulisan ringkas saya,
Apabila ada informasi yang kurang berkenan dari tulisan diatas, harap maklum adanya.
Terimakasih :)

"Berhati-hatilah kamu dengan berprasangka karena sesungguhnya berprasangka itu adalah sebohong-bohong ucapan" -HR. Bukhari dan Muslim





====================
[1]. Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Jakarta: LPFE Universitas Indonesia, 2004) h.151
[2]. Handout Psi Sosial II: Prasangka/ MM. Nilam Widyarini
[3]. KBBI: Syak, wasangka
[4]. Data Konflik Sosial, diakses dari: https://m.tempo.co/read/news/2015/05/21/078668047/konflik-yang-dipicu-keberagaman-budaya-indonesia
[5]. Prasangka dalam islam, diakses dari: http://www.islamituindah.my/jauhi-prasangka-sesama-islam
Share:

Sabtu, 10 Desember 2016

Menengahi Konflik Bisnis Transportasi Berbasis Online vs Konvensional: Studi Kasus Go-Jek Jakarta


Kemacetan di Jakarta membuat pangsa pasar ojek berkembang pesat. Meski tarifnya tak menentu, banyak warga Jakarta dan sekitarnya yang mengandalkan ojek sebagai transportasi sehari-hari. Ojek pangkalan adalah sebuah komunitas atau paguyuban perkumpulan tukang ojek. Disana terdapat aturan-aturan baik tertulis maupun tidak. Contohnya seperti nomor antrian penumpang, jadwal narik, setoran dan sebagainya. keributan seringkali terjadi ketika ada tukang ojek dadakan yang merebut penumpang tanpa mau antri atau bergabung dalam ojek pangkalan tersebut.
Tahun 2011, muncul transportasi berbasis online di Indonesia yakni GoJek. Hadir sebagai social entrepreneurship inovatif untuk mendorong perubahan sektor transportasi informal agar dapat beroperasi secara profesional. Manajemen GoJek menerapkan sistem bagi hasil dengan pengemudi ojek yang berada di bawah naungannya. Pembagiannya adalah, 80% penghasilan untuk pengemudi ojek dan 20%-nya untuk GoJek. Saat ini anggotanya sudah mencapai ribuan driver.
GoJek menawarkan 4 (empat) jasa layanan yang bisa dimanfaatkan oleh para pelanggannya: Instant Courier (Barang), Transport (Angkutan), Shopping (Belanja) dan Corporate (Kerjasama dengan perusahaan untuk jasa kurir)

Para pengguna Gojek, harus mengunduh GoJek Mobile App dari handphone mereka, baru mereka bisa memesan layanan Gojek. Para Gojek dengan mudah mendapatkan konsumen karena sudah mengandalkan kemajuan teknologi, tanpa harus nongkrong menunggu tanpa kepastian menunggu nomor urut antrian jatah narik.

GoJek kemudian merebak menjadi salah satu kata atau topik yang bermunculan di berbagai media. Namun bukannya pembahasan mengenai keunggulan dari layanan ojek unik ini. Tetapi, yang lebih mengemuka saat ini adalah adanya konflik antara pengemudi yang bergabung dengan GoJek dengan tukang ojek pangkalan. Keberadaan layanan GoJek di Ibu Kota Jakarta mulai memicu konflik. Pelan tapi pasti, suara penolakan terhadap Gojek mulai mengalir dari para pengemudi ojek pangkalan. Mereka menganggap eksistensi Gojek mengganggu keberadaan mereka dan membuat mereka merugi. Tukang-tukang ojek yang biasa mangkal di Ibu Kota Jakarta, mulai resah dengan banyaknya pengemudi GoJek yang seliweran di jalan-jalan Ibu Kota.  Persaingan antara pengemudi Gojek dengan pengemudi ojek pangkalan memang tidak dapat dihindari. Kapolda Metro Jaya juga melihat, pro kontra yang terjadi di antara tukang ojek pangkalan dan Gojek lebih diakibatkan oleh masalah persaingan. Ojek pangkalan merasa tersaingi oleh eksistensi Gojek.


Pihak General Manager Corporate Relations Gojek, Sam Diah menyatakan bahwa pihaknya hadir untuk membantu pengemudi ojek pangkalan, dan bukan sebaliknya bersaing dengan mereka.  "Yang paling utama kami sampaikan adalah kami bukan hadir untuk berkompetisi dengan pengemudi ojek pangkalan," kata Sam Diah. Bentuk bantuan yang diberikan Gojek kepada para pengojek menurutnya adalah dengan meningkatkan penghasilan mereka dengan bantuan teknologi. Tak hanya itu, para pengojek ini juga mendapat santunan kecelakaan dan jaminan asuransi kesehatan.  Sampai saat ini, kata Sam Diah, Gojek masih membuka kesempatan bagi pengemudi ojek pangkalan untuk bergabung.


Sampai sat ini, masih belum ada solusi atas konflik antara tukang ojek pangkalan dengan Gojek. Yang lebih dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik antara Gojek dengan para ojek pangkalan adalah
aturan yang jelas. Sejauh ini, belum ada aturan yang jelas soal Gojek ataupun Ojek Pangkalan. Sementara aturan legal belum ada, Kapolda bisa mendorong adanya kesepakatan bersama antara Gojek dengan para tukang ojek pangkalan yang tidak merugikan salah satunya.  Misalnya Gojek tidak boleh masuk komplek atau perumahan yang kecil. Biarkan itu menjadi area para ojek pangkalan. Sementara Gojek hanya untuk perjalanan dengan daerah yang lebih jauh. Atau kesepakatan lainnya yang penting tidak ada yang dirugikan.   Tanpa adanya kesepakatan, yang akan dirugikan bukan hanya Gojek dan ojek pangkalan saja, tetapi warga juga. Prinsipnya, dalam menyelesaikan konflik Gojek dengan ojek pangkalan ini, harus tidak ada diskriminasi.

Permasalahan Gojek vs Ojek Pangkalan ini, di masa silam juga pernah terjadi di moda transportasi lain yakni taksi. Di Bandung, saat taksi Blue Bird mulai boleh masuk, supir-supir taksi lokal yang kadang memakai argo kuda kemudian melakukan perlawanan yang mengerikan, taksi Blue Bird dibakar.  Namun kemudian taksi argo kuda di Bandung mulai berbenah diri dari kekerasan yang mereka pernah buat. Mereka mulai disiplin dengan argometernya, disiplin berkendara dan bahkan berseragam.  Dan sekarang banyak orang mengatakan bahwa naik taksi merek apapaun di Bandung lebih aman daripada di Jakarta. Mereka tidak ada yang bergabung dengan Blue Bird, tetapi mereka membenahi sistem mereka menjadi lebih baik.  

Pada akhirnya, segala kegiatan usaha transportasi antara ojek berbasis aplikasi online maupun juga pangkalan (begitupula mobil), harus sama-sama memahami kebutuhan dan juga kondisi masyarakat. Hal ini dikarenakan kebutuhan masyarakat merupakan cerminan akan kebutuhan pelanggan (konsumen) secara riil. Sehingga, bila ada kesepakatan dan juga sikap yang saling memahami antar pihak diharapkan akan menciptakan sebuah iklim usaha yang kondusif dan kompetitif (positif). Tentunya, perlu peran pemerintah untuk meregulasi dan mengawasi setiap kegiatan transportasi ojek ini, terlebih bila menyangkut kebutuhan masyarakat yang cukup penting dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, kedua belah pihak seyogyanya saling bersaing secara sehat dan "main bersih" tanpa menyebabkan konflik yang merugikan semua pihak. Mencoba untuk berorientasi kedepan, menyelaraskan resources  yang dimiliki, demi mensinergikan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tetap menjaga relasi dengan pihak-pihak yang sudah ada.

"Bagaimanapun, semua kembali  pada preferensi masing-masing individu. Yang terpenting dan paling utama adalah kualitas yang baik, adanya jaminan keselamatan, serta keamanan masyarakat nya sebagai pengguna moda transportasi ini."

..padahal naik tetangga haha
===========
Sumber referensi:

1.http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5600fb4f53445/ini-solusi-atasi-bentrokan-ojek-pangkalan-vs-ojek-online.

2.http://www.antaranews.com/berita/367727/pn-jakpus-tolak-gugatan-soal-kemacetan-jakarta

3.http://bisnis.liputan6.com/read/2471422/opini-angkutan-online-antara-kebutuhan-dan-regulasi

===========




Share:

Selasa, 23 Agustus 2016

"Politik dan Orang Baik"



POLITIK?
"Ah, kotor!"
"Ah, jahat!"

Benarkah?


source img: merdeka.com


Politik  itu sebenarnya mulia, sama halnya dengan bidang lain. Ini hanya soal bagaimana menjalaninya. Jika dijalani dengan benar, kemuliaan politik dapat dirasakan oleh banyak orang pula. Jika caranya buruk, politik menjadi buruk. 

"Cara akan menjadi wajah. Cara berpolitik kita adalah wajah politik kita"

Persepsi tentang politik yang buruk dan kotor sama sekali tidak menjelaskan kondisi politik. Ia lebih menjelaskan bagaimana kecenderungan politisi kita menjalani politik. Politik dan orang yang menjalaninya adalah dua hal berbeda.

Seharusnya politik diisi oleh orang-orang baik. Orang-orang yang tidak menjadikan politik sebagai lahan pekerjaan, melainkan sebagai pengabdian pada kepentingan banyak orang, bangsa, dan negara.

Kita harus menyambut baik jika ada orang baik yang masuk dunia pollitik, sebab ini pertanda politik akan memberikan harapan. Ketika politik diisi oleh orang-orang baik, hasil kebijakan yang dibuat pasti mementingkan kebaikan bersama. Karena itu, jangan pasang pagar antara politik dan orang baik, karena politik yang baik hanya bisa dihasilkan oleh orang-orang yang berada di dalam pagar.

Jika ada orang baik masuk politik, dukung mereka. Jika orang baik ikut kontestasi politik, menangkan mereka. Jangan membiarkannya bertarung sendiri. Ia pasti kalah jika sendirian. Ia harus dimenangkan ramai-ramai, dimenangkan bersama-sama.

Jika kita membiarkan orang baik bertarung sendirian dalam kancah politik, sesungguhnya kita adalah orang yang mementingkan diri sendiri. Orang egois selalu kehilangan relevansinya bagi lingkungan masyarakat di mana ia tinggal dan hidup. Orang baik yang berpangku tangan melihat politik yang buruk adalah politisi yang buruk. Orang baik yang membiarkan partai politik membusuk adalah politisi yang busuk.

Jika merasa baik, masuklah partai politik. Ia akan segera menunjukkan sejauh mana kebaikan dalam diri kita dan maknanya bagi bangsa. Percuma menganggap diri baik tetapi tak bermakna secara sosial.

Kecakapan dan 'kesholehan' secara individu itu baik, tetapi sungguh tak memadai. 'Kesholehan' individu harus sama besarnya dengan 'kesholehan' sosial. "Masuk surga pun akan lebih baik jika kita mengajak orang lain. Jangan berusaha masuk surga sendirian. Rasanya tidak afdhol, tidak utama".

Politik itu ibarat melati di tengah lumpur kepentingan. Sentuhlah dengan hatimu, bukan kakimu. Hanya dengan begitu putih wanginya terjaga.

Bukan orang baik kalau kita tak pernah berani masuk ke dalamnya. 
"Orang baik sejati adalah orang yang berani masuk dalam lumpur kepentingan, tetapi tidak belepotan saat keluar"

Bukan orang baik juga apabila kita menyendiri di tengah hutan dan asyik dengan dunia sendiri. Kita disebut baik justru karena interaksi kita dengan orang lain memberikan kemanfaatan, memberikan makna bagi apa yang disebut “hidup bersama”.

Source img: azquotes

Sering kita lihat orang baik berbangga justru karena ia tidak berpolitik. Kebanggaan begitu jelas subyektif belaka. Cobalah masuk politik dan kelak kita akan tahu apakah kita benar-benar orang baik.

Banyak orang baik terlihat baik saat jauh dari politik, tetapi saat masuk dunia politik ia segera terlihat aslinya. Power tends to corrupt, kata Lord Acton. Namun jika kita benar-benar menjaga diri dalam politik, sesungguhnya ia adalah jalan paling cepat menuju kebaikan dunia, tentu juga kebaikan bagi kita yang percaya akhirat kelak.

Benar, politik praktis berurusan dengan soal menang-kalah. Tetapi ingat, menang-kalah pun harus mulia caranya, sebab tiada guna kemenangan tanpa keberkahan.

Bagi orang baik, bukan the end justifies the means (tujuan menghalalkan segala cara) seperti postulasi Machiavelli, melainkan the means reflects the end (cara yang mencerminkan tujuan). Tentu, tujuan yang baik hanya pantas dicapai dengan cara-cara yang baik pula.





*Postingan ini adalah ide dan opini yg direpost dari rubrik media selasar.com
ditulis oleh bapak M Hanif Dhakiri, menteri ketenagakerjaan RI (periode 2014-2019).
Share:

Kamis, 11 Agustus 2016

Jalan berliku menuju "Iman" seutuhnya

Al-Iman yazid wa yanqus. (Iman bertambah dan berkurang)

image by: flyingazn.deviantart.com


Tidak, saya sedang tidak bercanda atau sekadar pamer nama saya dalam sebuah sabda Rasulullah.
Ya, demikianlah yang beliau ucapkan sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Baihaqi dan Ibnu Hibban dari penuturan Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

Dalam suatu sumber yang saya baca, mengutip dari kitab Fath al-Bari li Ibn Rajab, disebutkan bahwa iman seorang insan bertambah saat kita sedang mengingat Allah SWT sekaligus takut kepada-Nya. Sebaliknya, saat kita lalai dan lupa kepada Allah SWT berarti iman kita berkurang. Dikatakan juga oleh sebagian ulama, iman bertambah dengan ketaatan kita kepada Allah SWT, dan bekurang karena kemaksiatan kita kepada-Nya. Begitulah kiranya penjelasan ringkasnya.

Lalu, mana yang saya akan gali?
Lebih jelasnya, saya akan coba menggali dari dasar dengan perspektif saya pribadi.
Benar, iman seorang manusia layaknya sebuah grafik, nampak pula sebuah kondisi pasar.
Fluktuasi selalu terjadi. Kadang ada kalanya tren sedang naik dan 'profitable', tak jarang pula bisa mengalami kondisi 'pailit' dan terjerembab ke dalam jurang kerugian.
Pertanyaan besar yang muncul dalam diri saya adalah,
apa itu iman?
.
.
apakah iman kita sudah sebenar-benarnya iman?
.
.
Terlihat liar memang, namun itulah yang saya tekankan.
Kita boleh saja mengakui bahwa kita beriman, menghafal 6 rukun iman sejak usia dini, dan coba memahami maknanya.
Namun, apa implementasinya?
Saya bahkan belum mendapat jawaban pasti definisi iman 'versi saya' sampai saat membuat postingan ini, yang saya ketahui hanyalah asal-muasal kata dan tafsiran para ahli kitab serta orang-orang yang ahli di bidang itu mengenai iman.
Sementara, kita mungkin tahu bahwa seseorang beriman harus dengan sepenuh hati, maka tatkala ia didikte dengan serangkaian aturan yang mengatasnamakan "iman", maka saya katakan itu bukan iman, namun hanya tuntunan menuju iman.

Iman berarti percaya, iman berarti meyakini. Lalu dimana peran manusia?
Ya, disini lah peran sebenarnya.

Kalau saya, anda dan juga orang-orang muslim dihadapkan dengan pilihan, misal : lebih baik sholat atau syahadat?
tentu sebagian besar berkata: "syahadat", alasannya karena ia rukun islam yang pertama.
lalu yang lainnya berkata: "sholat", karena itu representasi keimanan seseorang yang sudah yakin dengan kewajibannya sebagai muslim.
Keduanya benar, dan tidak ada yang salah bagi saya. Mengapa? saya mengada-ada?
Tidak.
Mereka berdua adalah contoh bagaimana orang muslim berpikir dan bertindak. Benar, berpikirlah sebelum bertindak, namun jangan terlalu lama berpikir tanpa pernah melakukan tindakan. Ada dua pihak yang berbeda dalam satu wadah, dan kita tak bisa memungkiri hal ini benar adanya dan tidak ada yang mesti disalahkan.

Kondisi-kondisi seperti inilah yang menjadikan muslim beragam, variatif dan kreatif. Tentu bukan dalam hal akidah, hanya masalah fiqih dan hal-hal lainnya. Jadi tak perlu untuk dipermasalahkan.
Mengenai iman yang naik dan turun, hal itu adalah keniscayaan, saya sendiri merasakan betapa dahsyatnya dan begitu luarbiasa nikmat-Nya ketika saya sedang susah, sedang bersyukur dalam do'a dan usaha, dan hal lain yang membuat saya ingat siapa yang membawa nikmat itu. Disitu lah saya mengimani, disitu lah saya sadar bahwa saya punya Tuhan yang sangat sangat wajib saya percayai dan saya taati perintahnya. 
Bahkan ketika saya menuliskan kata-kata ini seakan saya merasa betul sedang diawasi. Ya, itulah salah satu contoh dari iman, iman yang kokoh nan tinggi.. selalu percaya bahkan terhadap suatu yang tidak nampak baginya. Inilah semurni-murninya tuntunan, bukan hanya tulisan seperti halnya blog saya ini.

Anda muslim, maka anda wajib mempercayai Ghaib. tentu.. Tuhan kita Allah azza wa jalla, ia Ghaib. Jin dan syaithan, mereka Ghaib, namun apa? apa korelasinya sampai keluar konteks bahasan?
Tidak, ini tidak keluar sedikitpun. Ingat apa yang saya tuliskan diawal post saya ini :)? "saya akan menggali dari dasarnya".

Dan..

Inilah..

Inilah iman versi saya.

Kalau lah bisa menyampaikan, maka saya akan berkata: "percaya dahulu dengan hal yang mungkin tidak mudah untuk kita percayai padahal ia begitu nyata, kemudian baru lah percaya pada yang nampak dan mudah dipercayai padahal itu bisa saja fana". 

Begitulah prinsip saya saat ini, banyak fase yang terlewati hingga saat saya studi di bangku kuliah semester tiga ini, saya mencoba ambil jalan tengah guna menghindari noda kelam keganasan emosi yang tak terkurung akal dan pikiran jernih masa lalu, iman yang tak dibungkus amal dan ibadah dengan penuh. Maka, rontoklah iman saya satu persatu, turun lah ia meski saya berteriak lantang dalam diri: "saya beriman, saya lebih ber-iman dari Anda!", Na'udzubillah min dzalik, jangan sampai terulang kembali apa yang saya katakan tersebut.

Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat-Nya untuk saya dan khususnya bagi Anda, pembaca yang singgah di blog saya dengan atau tanpa paksaan, melalui ketertarikan atau dengan keisengan, saya sangat menghargai.

Mari bersama melangkahkan kaki, perlahan demi perlahan namun pasti. Pilihlah jalan mu, pilih lah gayamu, karena aku tak melarang, mereka juga tak melarang (mungkin hanya benci kamu tak sesuai dengannya). Namun, ingatlah selalu apa yang baik bagimu, dan semoga itulah yang memang benar-benar diridhoi oleh-Nya :)
Aamiin ya rabbal 'alamin.


Afwan ala kulli hal, segala khilaf dan salah pasti ada dalam tulisan saya, namun inilah pandangan saya pribadi yang tidak perlu dimaki, cukup kritisi saya.. saya akan membuka diri. InshaAllah :)


Wassalamu'alaykum.
Share:
ASSALAMU'ALAIKUM.. SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. AMBIL MANFAAT, BUANG YANG KURANG BERKENAN :)

Hit and Visitors

@yazid.ulwan / 2022. Diberdayakan oleh Blogger.

Kita dan Bangsa!

Kita dan Bangsa!
cintailah negerimu, bagaimanapun kesenanganmu dengan budaya di negeri sana, pastikan darah juang selalu lekat dihatimu

Labels and Tags

Labels

Catatan Pinggir

Menulis dalam sebuah wadah yang baik demi kebermanfaatan, ialah suatu 'kewajiban' bagi saya meski sepatah-dua patah kata saja. --Jejak--