"Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak seorang ulama, maka jadilah seorang penulis" - Al Ghazali

Jumat, 19 Juni 2020

Memaknai Syukur

Klaim adalah penyakit bagi pejalan sunyi karena ia mengganggu ketulusan. Dikatakan misalnya, sepanjang seseorang masih mengklaim akan syukur, maka sesungguhnya ia belum merealisasikan esensi bersyukur yang tulus.
Hakikat syukur yang tulus ialah berterima kasih secara reflektif dan simultan. Perilaku berterima kasih sudah menjadi karakter dalam dirinya yang muncul secara otomatis setiap kali keadaan membutuhkan.
Dalam praktiknya, perbedaan antara syukur, yang berupa klaim dengan syukur yang tulus adalah perbedaan antara formalitas dengan sungguh-sungguh. Seseorang yang berterima kasih secara formalitas cukup dengan ucapan. Namun, yang sungguh-sungguh berterima kasih tidak dengan hanya ucapan.  Lebih dari itu, Ia lebih suka memberi, selalu berlapang dada, melapangkan kesulitan orang lain, rajin, apresiatif, akomodatif, dan bersemangat melakukan apa yang semestinya dilakukan.
.
Bersyukur bukan sekadar cukup dalam ucapan, tetapi memaknai dengan penuh apa yang sudah kita dapatkan. 
Teruslah "bersyukur" dengan caramu!

________
Source: Hakikat Syukur - Buya Kamba, dengan saduran penulis.
Gambar: diambil saat CFD Sudirman, Januari 2020
Share:

Minggu, 24 November 2019

Mengerti

Tak pernah tersingkap terang di akhir pedar
Bahwa selalu ada nyala di dalam suar
Yang berkejar menggapai puncak nabastala
Seraya memahat tinta memorabilia

Semilir angin pagi harum mewangi
Bertuan daksa dan aksara yang ku kenali
Menjalar ke dalam riuhnya alam raya
Mengalir bagai sumber tirta amarta

Mungkin belumlah lama senada bersua
Tetapi rasa, tak mesti banyak bertegur sapa
Sebetapa tinggi-rendah nada dan irama
Ada pelbagai sama yang ujung bermuara

Maka,

Tak perlu lah terburu menguak gaharu
Sebermula dahulu mengejar sesuatu
Menguatkan mencapai harsa di suatu waktu
Hingga Tuhan kan tunjukkan, kecamuk bahagia yang mengharu biru.

I'll be right here,
waiting for something true.




Share:

Selasa, 12 November 2019

Do not go gentle in that good night

"Do not go gentle into that good night,
Old age should burn and rave at close of day;
Rage, rage against the dying of the light.

Though wise men at their end know dark is right,
Because their words had forked no lightning they
Do not go gentle into that good night.

Rage, rage against the dying of the light."


________________
Poem by: Dylan Thomas
Movie: Interstellar
Share:

Minggu, 10 November 2019

Selamat jalan Dik, kita kan berjumpa lagi!

Sore itu, ku lihat raut wajahmu
Penuh rasa gembira dan suka cita
Dengan semangat, kau pun berkata
Bahwa hari esok "aku harus berada di sana"

Hari yang panjang itu kita lalui,
Terik matahari, menjadi kawan mengitari
Apa-apa yang telah datang kepadamu
Seakan engkau tahu
Bahwa itu adalah ungkapan pamit dari mu.

Malam tiba, kau pun tak sabar untuk segera
Melanjutkan niat dan ikhtiar kita bersama
Tempat dimana kamu katakan;
"Aku sudah tidak memikirkan dunia dan seisinya".

Rabu, 06 November 2019 / 09 Rabi'ul Awal 1441 H.
Allah memanggilmu dengan penuh kasih dan sayang-Nya.
RS Dharmais menjadi saksi berpulang,
Seorang hamba yang amat dicinta oleh kelurga dan teman-temannya.


Dik, waktu mungkin cepat berlalu
Tapi perjuanganmu, tak mungkin untuk dilupakan
Setiap peluhmu, perihmu, dan do'a-do'a dalam tatihmu
Seakan menjadi kawan penggugur rasa sakit itu.

Dik, aku bangga bisa menjadi kakak bagimu
Seorang yang cerdas, kuat dan tangguh
Meski terkadang aku selalu merindukan
Canda-tawa dan perdebatan kita di masa lalu.

Dik, Abi dan Mamah ikhlas dan ridho untuk mu
Kakak dan Adik, akan ku kuatkan selalu
Aku tahu kau tak mungkin lagi membaca pesan ku ini
Tapi aku yakin, Allah menyampaikan padamu lebih dari yang aku mampu tuliskan.

Selamat jalan Adik sayang,
Kita berpisah untuk mengharap kembali bersua di Syurga-Nya kelak
Do'a ku, semoga kita bisa berkumpul, dalam satu barisan yang sama
Ashabul Yamin.. wa Jannatul Firdausi Nuzula.

اللهم إنا نسألك رضاك والجنة ونعوذ بك Ù…Ù† Ø³Ø®Ø·Ùƒ والنار
Allahumma inna nas-aluka ridhoka wal-Jannah, wa naudzubika min syakhotika wan-naar.

(Ya Allah, kami memohon dari-Mu untuk mendapat keridhoan dan Syurga-Mu, dan kami berlindung kepadamu-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa Neraka).

Aamiin yaa Rabbal 'alamiin.




Share:

Rabu, 09 Oktober 2019

Ikigai: A Reason for Being


"It is a processes of cultivating one’s inner potential or that which makes one’s life significant".

The “reason for being” gives us a “reason to live.”


There are 5 Pillars:

1. Starting small; focusing on doing a certain thing (or part of a thing) very well.
2. Releasing yourself; accepting who you are, and allowing yourself to be open to your place.
3. Harmony & sustainability; recognizing that the permanence of anything includes getting along with and relying on others.
4. The joy of small things; appreciating the sensory pleasure of everything around you.
5. Being here and now; living in this moment now.

So, What we are waiting for?
let's starts!

Share:

Minggu, 08 September 2019

Memacu Investasi di Indonesia

Awal September 2019, Bank Dunia (The World Bank), mengeluarkan sebuah rilis yang berjudul: "Global Economic Risks, and Implications for Indonesia". Tak ayal, rilis ini langsung menghebohkan jagat dunia investasi di Indonesia yang memang sedang mengalami slowdown (perlambatan), dan potensi tekanan akan adanya resesi global.

Lalu, pertanyaan yang kemudian timbul adalah, apa penyebabnya?



Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman kondisi capital outflow, yakni posisi CAD (current account deficit), melambung hingga mendekati angka psikologis 3 persen dari jumlah PDB. Tentu, hal ini menjadi perhatian serius karena negara Indonesia sendiri di lain sisi juga sedang gencar-gencarnya menggenjot pembangunan di dalam negeri.

Kondisi demikian, juga diperparah dengan rendahnya capaian PMA (Penanaman Modal Asing) Indonesia yang hanya mencapai $22 miliar dari target akhir tahun yakni sebesar $33 miliar. Sedangkan untuk investasi Indonesia di luar negeri baru mencapai $5 miliar. Angka ini masih menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Indonesia untuk menutup defisit yang cukup lebar (diperkirakan total $16 miliar), serta menggenjot laju investasi dengan mendapat capital inflow yang ekstra.

Dalam perspektif makro, CAD (current account deficit) memang dapat menggambarkan kondisi perekonomian suatu negara yang memiliki stabilitas dari risiko monetersetidaknya dalam jangka pendekdengan catatan Penanaman Modal Asing mendominasi sektor riil yang dapat menghasilkan produk berdaya ekspor atau menghasilkan devisa bagi Indonesia.

Pertubuhan GDP yang masih mengalami fluktuasi menambah beban berat economic growth Indonesia dalam beberapa waktu mendatang (setidaknya sampai 2022). Data dari BPS, CEIC dan World Bank mengungkapkan bahwa pada tahun 2020, proyeksi potential output growth dari GDP Indonesia berada pada kisaran 4.9-4.6 persen. Menurun dari tahun 2018 di angka 5.2 persen dan proyeksi di akhir tahun 2019 sebesar 5 persen.

Pelemahan (slowdown) dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, sejatinya hanya salah satu dampak dari akumulasi global slowdown dan kekhawatiran akan terjadinya resesi global (diperkirakan tahun 2020). Hal ini tidak terlepas dari semakin memanasnya trade-war antara negara ekonomi besar seperti US-China, dan risiko geopolitik yang merambah sampai ke berbagai negara lainnya.

Data menjelaskan lebih lanjut bahwa risiko yang ditimbulkan adalah terjadinya krisis. Jika melihat kondisi saat ini, tentu bukan hal yang mengada-ada bahwa telah terjadi pelbagai gejolak yang mendorong kecemasan dalam perekonomian global, seperti: pemilu US, realisasi Brexit, demonstrasi menolak ekstradisi di Hongkong, krisis Argentina, Turki, Kashmir, tensi antara Jepang dan Korea, sanksi Iran dan shadow war dengan Israel, serta gejolak lainnya yang bisa saja muncul.

Solusi yang menjadi pilihan bagi Indonesia untuk dapat survive di tengah arus perekonomian global yang menghadapi ketidakpastian adalah dengan mendorong FDI (foreign direct investment), bukan dengan mengurangi current account deficit atau CAD yang berada di kisaran 3 persen. FDI diharapkan dapat menjadi stimulus dalam mendatangkan investasi-investasi baru di Indonesia.

Hal berikutnya yang menjadi catatan bagi Indonesia, adalah bagaimana upaya yang dilakukan Pemerintah untuk meyakinkan investor asing agar mau menanamkan modalnya di Indonesia. Tantangan yang dihadapi bukan lagi persoalan klise seperti isu politik, namun lebih kepada tataran teknis seperti persoalan perizinan, kemudahan bisnis, dan kepastian hukum. Ketiga hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Sebagaimana negara lain yang telah melakukan reformasi total dalam kebijakan ekonominya, Indonesia sampai saat ini jelas masih jauh tertinggal.

Indonesia menempati posisi cut-off dalam rantai nilai (suppy chain) produk manufaktur global. Sehingga, komoditas dan produk ekspor yang dihasilkan Indonesia, belum banyak membantu menyelamatkan perekonomian negara karena sewaktu-waktu dapat dikalahkan atau tergantikan oleh produk serupa dari negara lain. Hal ini tidak terlepas dari posisi Indonesia yang hanya mengisi rantai manufaktur globalsebagian besardengan komoditas (bukan teknologi).

Jika dilihat secara umum, komoditas yang diunggulkan oleh Indonesia yakni komoditas subsektor perkebunan, sebutlah kelapa sawit (sebagai biofuel), dan karet (sebagai komponen parts). Kemudian menyusul produk sektor pertambangan seperti nikel, besi, dan tembaga sebagai campuran bahan material. Pun demikian, harga sebagian besar komoditas tersebut terus tertekan oleh produsen di negara lainnya. Hal ini dikarenakan adanya perjanjian dagang yang disepakati oleh negara tertentu. Perjanjian ini dapat membuat bea dan tarif yang lebih murah serta mengikat antar negara yang bekerja sama. Sebagai contoh, negara yang telah berhasil membuat perjanjian dagang yang kompetitif antara lain: Vietnam, Thailand, Malaysia dan Singapura. Bila Indonesia tidak cermat dalam membuat perjanjian dagang semacam ini, maka tidak mengherankan bila komoditas ekspor Indonesia semakin terpuruk harga dan posisinya di pasaran global.

Untuk memacu investasi berkesinambungan di Indonesia, diperlukan serangkaian upaya konkret dan revolusioner. Investor tidak mau memasuki suatu negara yang tidak memiliki kepastian hukum dan pengurusan izin yang terlalu birokratis. Di Indonesia, pemerintah telah melakukan langkah inisiatif yakni menyederhanakan perizinan dengan kebijakan OSS (Online Single Submission). Akan tetapi pada praktiknya di lapangan masih banyak permasalahan yang perlu dibenahi.

Oleh karena itu, sebagai bangsa yang besar dan memiliki populasi terbesar ke-4 di dunia, Indonesia perlu untuk melakukan pembenahan secara total. Solusi yang perlu diperhatikan adalah mulai secara bertahap melakukan penguatan pada prinsip Ease of Doing Business (EoDB), diiringi dengan melepas ego-sektoral, yang secara simultan juga menyelaraskan langkah bersama antara pemangku kebijakan di tingkat pusat, daerah, maupun stakeholders terkait. Dengan didukung serangkaian program yang terukur seperti insentif dan perjanjian dagang yang dapat memacu laju investasi di Indonesia secara berkelanjutan. Maka, diharapkan investasi di Indonesia dapat melaju, serta menggerakkan sendi-sendi perekonomian negara menjadi lebih kuat dan lebih matang dalam menghadapi tantangan perekonomian global.

_______
Sumber:

- The World Bank (2019). "Global economic risks and implications for Indonesia". Report on September, 2019: The World Bank IBRD-IDA.

Muhammad Yazid Ulwan,
Staff Riset di FP2SB/GAPKI-IPOA

Share:

Kamis, 28 Februari 2019

Pale Blue Dot



Look again at that dot. 
That's here.
That's home.
That's us.

On it 
everyone you love, 
everyone you know, 
everyone you ever heard of, 
every human being who ever was, 
lived out their lives. 

The aggregate of our joy and suffering.

- Carl Sagan
_____________


Share:

Rabu, 26 Desember 2018

See and interpret It!

"I'm not as good as you say, but I'm not as bad as you think".
—Ali ibn Abi Thalib (RA)


Sunda Straits. Heading to Bakauheni port (Lampung). June, 2018



Sometimes you win
Sometimes you learn

When you fall out
Then you get up

You choose the white side
They might say it's the other

You work really well
They gave nothing, they just didn't see


Have you ever heard?


This is life
So confusing
Amused
Intriguing

Will lead you to the "light"
or into the "dark"

But one thing that is certain;
The Almighty NOT disappoints Us
And He will NEVER be

So,
Don't lose hope, nor be sad (3:139)
You'll surely be victorious if you are true have in faith.

Hasta la victoria siempre!

Share:

Jumat, 02 November 2018

Negara Hukum para Begundal: Sebuah Opini terhadap Kasus Korupsi "Tugu Anti Korupsi" di Riau

Semangat anti korupsi terus digaungkan oleh berbagai elemen masyarakat di Indonesia. Khususnya, mereka yang sudah jengah melihat tingkah laku para koruptor yang makin "sekonyong-konyong" melakukan tindakan korupsi.

Tersebutlah satu kasus yang membuat gelak tawa sekaligus tanda tanya.

"18 PEJABAT TERSERET KASUS KORUPSI PEMBANGUNAN TUGU ANTI KORUPSI DI RIAU"
Kok bisa??

Ya, lucu sekali mendengar ada kasus semacam ini. Beberapa waktu lalu, ketua DPR tersandung kasus mega korupsi E-KTP, baru-baru ini Wakil Ketua DPR RI tersengat uang panas juga dalam kasus penerimaan hadiah dari utak-atik DAK.

Kembali menyoroti topik, saya haqqul yaqin sangat jarang ada kasus serupa korupsi pembangunan tugu "anti korupsi" ini di belahan dunia lainnya. Sungguh selentingan berita dan humor yang menghibur laiknya konten Majelis LucuLawak Indonesia. Memicu gelak tawa, dan di lain sisi membangkitkan amarah bagi sebagian orang yang tidak mengamini cara-cara nya.

Sudah berjalan proses persidangan, dan diwacanakan tugu yang sudah kadung berdiri tegak sejak 2016 silam itu akan menyusul dirobohkan kemudian. Seperti dilansir dari Detiknews.com pada 26 April 2018, dalam sebuah dakwaan, proyek tugu anti korupsi sekaligus pembukaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jl. Ahmad Yani, Pekanbaru Riau ini disebut menelan dana lebih dari Rp 8 Miliar dan kerugian negara ditaksir lebih dari Rp 1,23 Miliar. 

Setelah diresmikan oleh Gubernur Riau bersama dengan Ketua KPK Agus Raharjo, siapa yang tidak malu dengan kisah yang ada di balik nya?. Maka, wacana meluluhlantakkan nya dianggap sebagai opsi menarik dan balasan yang setimpal.

Belakangan, tepatnya awal November 2018, satu demi satu intrik licik para pejabat korup di Riau dalam memainkan anggaran pembangunan tugu dan pembukaan RTH mulai terkuak. Tiga orang sudah dikenakan hukuman bui, menyusul belasan lainnya--dan masih mungkin bertambah--karena ada pelaku yang mengajukan sebagai justice collaborator .

Yang jelas, korupsinya berjamaah, maka tidak ada dusta di antara satu sama lainnya. Saling seret satu sama lain untuk meramaikan "pagelaran akbar" tersebut.

Lelah rasanya melihat berita korupsi, dan lagi ketika membuka media daring ternyata salah satu rilis terkini nya diramaikan kasus-kasus korupsi baru. Bahkan ketika ingin scroll lini masa, yang nampak adalah reportase langsung OTT oleh KPK. Ah, semakin jengkel rasanya.

Saya sejatinya bukan manusia idealis, tapi juga tidak pragmatis2 amat. Seperti orang pada umumnya yang sudah gerah melihat tindak kedzaliman yang nyata kerugiannya secara materil dan immateril, tentu sebagai anak bangsa yang tengah bergerak menuju pembangunan bangsa yang kohesif dengan pembangunan karakter, saya tidak ingin berdiam diri. Mungkin teman-teman juga memikirkan hal yang sama?

Ah, lagi-lagi saya tidak ingin menggebu. Khawatir kejengkelan saya berujung pada keingintahuan dan malah (amit-amit) masuk ke kubangan yang sama. Semoga kita selalu terhindar dari tindakan demikian.

Satu penutup postingan ini, untaian nan indah dari Museum FH UI;



____________
 *Edit: paragraf 2, semulanya MPR menjadi DPR RI.

Sumber:
Chaidir Anwar Tanjug.
- https://m.detik.com/news/berita/d-4284467/geger-18-orang-jadi-tersangka-kasus-korupsi-proyek-tugu-antikorupsi?

- https://m.detik.com/news/berita/3748646/tersangka-korupsi-tugu-antikorupsi-siap-jadi-justice-collaborator

- https://m.detik.com/news/berita/d-3991458/jaksa-beberkan-trik-korupsi-proyek-tugu-antikorupsi-di-riau
Share:

Sabtu, 30 September 2017

Pemberantasan Korupsi dan Pentingnya Dukungan Publik

Tertanggal 29 September 2017 lalu, Setya Novanto atau yang sering dipanggil "Papah", salah satu tersangka kasus korupsi megaproyek E-KTP, memenangkan sidang putusan Praperadilan di PN Jakarta Selatan. 

Saya kebetulan menyempatkan hadir dan menyaksikan langsung sidang tersebut. Namun, tak banyak yang bisa saya perbuat. Hanya menggerutu, marah, heran sekaligus geram atas putusan hakim Cepi Iskandar yang memimpin jalannya sidang. Di tengah-tengah penjagaan ketat aparat keamanan, ditambah banyaknya para jurnalis dari media massa yang hadir, semakin memanaskan ruang sidang Oemar Seno Adji di Pengadilan Negeri Jaksel yang penuh sesak saat itu.

Apa yang saya bisa lakukan setelahnya?, 
menangis? tentu bodoh sekali rasanya. Apalagi cuma menyinyir sana-sini yang tiada arti. Mari, sudahi pertikaian guna menuju suatu cita besar kita: berantas kasus-kasus korupsi di Indonesia.

Kembali ke topik bahasan, Pemberantasan Korupsi dan Pentingnya Dukungan PublikSaya teringat sebuah pesan yang tidak asing di telinga saya, entah siapa yang pernah mengucapkannya, kurang lebih seperti ini;
"Memberantas tikus berdasi tak semudah memberantas tikus di ladang, apalagi jika sendirian. Maka kita harus menggalang kekuatan bersama untuk bisa memberantasnya".
Ilustrasi mural oleh: Komunitas Cicak (Cinta Indonesia Cinta Anti Korupsi)

Korupsi: Budaya yang Mengakar

Sudah sering terdengar pejabat-pejabat negara yang tersandung kasus korupsi. Mulai yang bermain angka dengan proyekannya, tukar guling, suap menyuap, sampai dengan cuci kaki uang. Tak terkira berapa banyak macam bentuk korupsi yang ada di dunia, pun dengan terma-terma yang berbeda memahami apa itu korupsi. Saya tidak ingin berlarut membahas arti "corruptio" dan kawanannya. Satu hal yang tidak boleh berubah: Korupsi tetaplah korupsi, ia kejahatan. Sekecil apapun.

Berbicara mengenai korupsi, saya berani jamin bahwa kita tidak ada yang pernah luput dari motif korup, atau dalam konteks yang lebih jelasnya adalah pada masa kini. Setidak-tidaknya kita pernah melakukan praktik curang dan menyalahi kelaziman. Itulah salah satu bentuk korup kita, maka tak jarang orang kemudian kerap mencari aman dengan diksi pengganti semacamnya. Kalau lah opini saya mengada-ada, saya kira tidak perlu berlelah diri menuliskannya.

Lantas, apa yang menjadikan korupsi seksi untuk diperbincangkan?
Jawabannya terletak pada siapa yang memainkan peranan tersebut. Perbedaan yang mencoloknya tentu dari posisi yang dimiliki oleh si pelaku. Semakin strategis dan besar nama yang diemban, semakin banyak pula publik membicarakannya. Di sini kita bisa menemukan relevansi pepatah: "semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang berhembus". Tentu, dalam konteks yang berbeda dari biasanya, ibaratkan posisi tinggi yang dimiliki koruptor ialah pohonan tinggi, dan pohonan itu diterpa angin kencang (badai) hingga goyah, atau bahkan tumbang. Saat itu lah pemberitaan besarnya tersebar.

Fantasi Kepentingan

Setiap tindakan adalah konsekuensi dari sebuah kepentingan. Secara gamblang, kita bisa mengidentifikasi kasus-kasus korupsi yang ada sebagai buah dari koruptor yang tengah gelap mata oleh bermacam kepentingan. Dari motif korupsi yang ada, selalu bermuara pada motif ekonomi dan politik—atau notabenenya kepentingan pribadi maupun kelompok.

Sebetulnya, kedua hal ini tidak begitu berbeda, motif ekonomi cenderung dipengaruhi adanya kepentingan untuk mencapai kemakmuran dari penguasaan faktor produksi dan finansial. Sebaliknya, motif kepentingan juga bisa membuat celah terbukanya jalan keputusan yang membuat pihak tertentu diuntungkan. Jika melihat kasus-kasus korupsi belakangan ini, banyak yang bermain adalah para politisi dan rekanan kerja yang sama-sama memiliki kepentingan. Di sisi yang berlainan, masyarakat hanya menjadi penonton dari aksi tersebut. Bisa jadi, masyarakat tidak mengetahui sama sekali.

Inilah pekerjaan kita, sebagai masyarakat. Tidak ada lagi yang dapat menghentikan praktik korup dari para koruptor kelas berat di negeri ini kecuali kekuatan dari publik (kita sendiri).

Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Di Indonesia, ada lembaga yang dibentuk sejak tahun 2002 untuk menangani secara khusus kasus korupsi, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kinerjanya sejauh ini cukup memuaskan publik, terhitung lebih dari Rp. 1,3 triliun uang hasil korupsi ditindak oleh KPK. Meskipun nada sumir sering terdengar karena baru sekitar 730 miliar rupiah yang berhasil KPK kembalikan kepada negara, namun kita tak boleh lupa, pencegahan juga sangat penting dan berdampak dalam menyelamatkan keuangan negara.

Dari data yang dipublikasikan KPK (kpk.go.id), diestimasikan sekitar Rp. 270 triliun uang negara telah berhasil diselamatkan dari potensi korupsi. Masalahnya memang tak sekadar besaran uang, namun pada efektivitas kerja dari lembaga anti korupsi ini dalam menggagalkan upaya korupsi. Wacana belakangan, santer terdengar rencana dari DPR untuk merevisi UU KPK melalui Revisi Undang-Undang No. 30 tahun 2002, tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Hal ini mengindikasikan adanya upaya pelemahan terhadap lembaga antirasuah ini. Meski sering kali, DPR berkilah adanya revisi justru untuk mengawasi kinerja KPK dan menguatkan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Pentingnya Dukungan Publik

Kita ketahui bersama, KPK bukan lembaga yang sempurna. Banyak kasus yang mandek hingga kini seperti; BLBI, Century, RS Sumber Waras, Reklamasi Teluk Jakarta, dan lain sebagainya. Namun, ketidaksempurnaan ini tak perlu dibahas berlarut-larut. Keterbatasan penyidik, alat bukti dan sumber daya penunjang lainnya menjadi penting untuk mengusut kasus-kasus yang ada. Dugaan semata atau intrik politis tidak banyak membantu penyelesaian masalah, karena semua dilakukan due process of law. 

Bila melihat kinerja KPK dari aspek kelembagaan, Laporan Keuangan KPK selalu memiliki Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Demikian juga dengan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi pemerintah (LAKIP), selama enam tahun sejak tahun 2010, KPK memperoleh Nilai A. Sebuah capaian yang baik dan tentunya patut diapresiasi. Selain itu, lembaga ini meraih penghargaan peringkat pertama Keterbukaan Informasi Badan Publik Tahun 2016 kategori Lembaga Non Struktural (LNS) dari Komisi Informasi Pusat (KIP). Tentunya, capaian yang baik ini tidak diraih begitu saja, sudah panjang perjalanan KPK hingga bisa mendapat predikat tersebut. Ini yang saya kira bisa dijadikan pegangan bagi publik untuk tetap bisa mempercayai, serta memberi dukungan pada KPK.

Mari berikan waktu pada semua pihak untuk bekerja secara maksimal, setidaknya publik juga dapat ikut serta mengawal. Tidak ada salahnya bila mendukung dan mendorong lembaga anti korupsi yang tetap konsisten setidaknya sampai dengan detik ini. Ingat pula bahwa public power masih sangat dibutuhkan untuk bisa menolong negeri ini dari upaya pendelegitimasian lembaga dan pihak-pihak yang anti terhadap korupsi.

Kita mesti banyak belajar, agar tidak melulu terkungkung pada perbincangan yang tiada habis. Semua berperan dan bertanggungjawab atas cita bersama: pemberantasan kasus-kasus korupsi secara tuntas di Indonesia. Semoga bukan mimpi di siang bolong.

Mahasiswa dan segenap rakyat, bersatulah!
___________________________________
Muhammad Yazid Ulwan,
Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM Fakultas Ilmu Administrasi UI 2017

Sumber:
1). Mural Komunitas Cicak (Cinta Indonesia Cinta Anti Korupsi), "Berantas Tikus!" https://image.slidesharecdn.com/muralpresentationedit-111221101357-phpapp02/95/mural-14-728.jpg?cb=1324462868
2). Anggaran KPK dan Uang yang Diselamatkan, http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/06/22/orxzcm-anggaran-kpk-lebih-besar-dari-uang-yang-diselamatkan
3). KPK Selamatkan Uang Negara, https://www.kpk.go.id/id/berita-sub/2641-kpk-selamatkan-uang-negara-rp-270-t
Share:
ASSALAMU'ALAIKUM.. SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. AMBIL MANFAAT, BUANG YANG KURANG BERKENAN :)

Hit and Visitors

@yazid.ulwan / 2022. Diberdayakan oleh Blogger.

Kita dan Bangsa!

Kita dan Bangsa!
cintailah negerimu, bagaimanapun kesenanganmu dengan budaya di negeri sana, pastikan darah juang selalu lekat dihatimu

Labels and Tags

Labels

Catatan Pinggir

Menulis dalam sebuah wadah yang baik demi kebermanfaatan, ialah suatu 'kewajiban' bagi saya meski sepatah-dua patah kata saja. --Jejak--