"Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak seorang ulama, maka jadilah seorang penulis" - Al Ghazali

Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 September 2019

Memacu Investasi di Indonesia

Awal September 2019, Bank Dunia (The World Bank), mengeluarkan sebuah rilis yang berjudul: "Global Economic Risks, and Implications for Indonesia". Tak ayal, rilis ini langsung menghebohkan jagat dunia investasi di Indonesia yang memang sedang mengalami slowdown (perlambatan), dan potensi tekanan akan adanya resesi global.

Lalu, pertanyaan yang kemudian timbul adalah, apa penyebabnya?



Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman kondisi capital outflow, yakni posisi CAD (current account deficit), melambung hingga mendekati angka psikologis 3 persen dari jumlah PDB. Tentu, hal ini menjadi perhatian serius karena negara Indonesia sendiri di lain sisi juga sedang gencar-gencarnya menggenjot pembangunan di dalam negeri.

Kondisi demikian, juga diperparah dengan rendahnya capaian PMA (Penanaman Modal Asing) Indonesia yang hanya mencapai $22 miliar dari target akhir tahun yakni sebesar $33 miliar. Sedangkan untuk investasi Indonesia di luar negeri baru mencapai $5 miliar. Angka ini masih menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Indonesia untuk menutup defisit yang cukup lebar (diperkirakan total $16 miliar), serta menggenjot laju investasi dengan mendapat capital inflow yang ekstra.

Dalam perspektif makro, CAD (current account deficit) memang dapat menggambarkan kondisi perekonomian suatu negara yang memiliki stabilitas dari risiko monetersetidaknya dalam jangka pendekdengan catatan Penanaman Modal Asing mendominasi sektor riil yang dapat menghasilkan produk berdaya ekspor atau menghasilkan devisa bagi Indonesia.

Pertubuhan GDP yang masih mengalami fluktuasi menambah beban berat economic growth Indonesia dalam beberapa waktu mendatang (setidaknya sampai 2022). Data dari BPS, CEIC dan World Bank mengungkapkan bahwa pada tahun 2020, proyeksi potential output growth dari GDP Indonesia berada pada kisaran 4.9-4.6 persen. Menurun dari tahun 2018 di angka 5.2 persen dan proyeksi di akhir tahun 2019 sebesar 5 persen.

Pelemahan (slowdown) dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, sejatinya hanya salah satu dampak dari akumulasi global slowdown dan kekhawatiran akan terjadinya resesi global (diperkirakan tahun 2020). Hal ini tidak terlepas dari semakin memanasnya trade-war antara negara ekonomi besar seperti US-China, dan risiko geopolitik yang merambah sampai ke berbagai negara lainnya.

Data menjelaskan lebih lanjut bahwa risiko yang ditimbulkan adalah terjadinya krisis. Jika melihat kondisi saat ini, tentu bukan hal yang mengada-ada bahwa telah terjadi pelbagai gejolak yang mendorong kecemasan dalam perekonomian global, seperti: pemilu US, realisasi Brexit, demonstrasi menolak ekstradisi di Hongkong, krisis Argentina, Turki, Kashmir, tensi antara Jepang dan Korea, sanksi Iran dan shadow war dengan Israel, serta gejolak lainnya yang bisa saja muncul.

Solusi yang menjadi pilihan bagi Indonesia untuk dapat survive di tengah arus perekonomian global yang menghadapi ketidakpastian adalah dengan mendorong FDI (foreign direct investment), bukan dengan mengurangi current account deficit atau CAD yang berada di kisaran 3 persen. FDI diharapkan dapat menjadi stimulus dalam mendatangkan investasi-investasi baru di Indonesia.

Hal berikutnya yang menjadi catatan bagi Indonesia, adalah bagaimana upaya yang dilakukan Pemerintah untuk meyakinkan investor asing agar mau menanamkan modalnya di Indonesia. Tantangan yang dihadapi bukan lagi persoalan klise seperti isu politik, namun lebih kepada tataran teknis seperti persoalan perizinan, kemudahan bisnis, dan kepastian hukum. Ketiga hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Sebagaimana negara lain yang telah melakukan reformasi total dalam kebijakan ekonominya, Indonesia sampai saat ini jelas masih jauh tertinggal.

Indonesia menempati posisi cut-off dalam rantai nilai (suppy chain) produk manufaktur global. Sehingga, komoditas dan produk ekspor yang dihasilkan Indonesia, belum banyak membantu menyelamatkan perekonomian negara karena sewaktu-waktu dapat dikalahkan atau tergantikan oleh produk serupa dari negara lain. Hal ini tidak terlepas dari posisi Indonesia yang hanya mengisi rantai manufaktur globalsebagian besardengan komoditas (bukan teknologi).

Jika dilihat secara umum, komoditas yang diunggulkan oleh Indonesia yakni komoditas subsektor perkebunan, sebutlah kelapa sawit (sebagai biofuel), dan karet (sebagai komponen parts). Kemudian menyusul produk sektor pertambangan seperti nikel, besi, dan tembaga sebagai campuran bahan material. Pun demikian, harga sebagian besar komoditas tersebut terus tertekan oleh produsen di negara lainnya. Hal ini dikarenakan adanya perjanjian dagang yang disepakati oleh negara tertentu. Perjanjian ini dapat membuat bea dan tarif yang lebih murah serta mengikat antar negara yang bekerja sama. Sebagai contoh, negara yang telah berhasil membuat perjanjian dagang yang kompetitif antara lain: Vietnam, Thailand, Malaysia dan Singapura. Bila Indonesia tidak cermat dalam membuat perjanjian dagang semacam ini, maka tidak mengherankan bila komoditas ekspor Indonesia semakin terpuruk harga dan posisinya di pasaran global.

Untuk memacu investasi berkesinambungan di Indonesia, diperlukan serangkaian upaya konkret dan revolusioner. Investor tidak mau memasuki suatu negara yang tidak memiliki kepastian hukum dan pengurusan izin yang terlalu birokratis. Di Indonesia, pemerintah telah melakukan langkah inisiatif yakni menyederhanakan perizinan dengan kebijakan OSS (Online Single Submission). Akan tetapi pada praktiknya di lapangan masih banyak permasalahan yang perlu dibenahi.

Oleh karena itu, sebagai bangsa yang besar dan memiliki populasi terbesar ke-4 di dunia, Indonesia perlu untuk melakukan pembenahan secara total. Solusi yang perlu diperhatikan adalah mulai secara bertahap melakukan penguatan pada prinsip Ease of Doing Business (EoDB), diiringi dengan melepas ego-sektoral, yang secara simultan juga menyelaraskan langkah bersama antara pemangku kebijakan di tingkat pusat, daerah, maupun stakeholders terkait. Dengan didukung serangkaian program yang terukur seperti insentif dan perjanjian dagang yang dapat memacu laju investasi di Indonesia secara berkelanjutan. Maka, diharapkan investasi di Indonesia dapat melaju, serta menggerakkan sendi-sendi perekonomian negara menjadi lebih kuat dan lebih matang dalam menghadapi tantangan perekonomian global.

_______
Sumber:

- The World Bank (2019). "Global economic risks and implications for Indonesia". Report on September, 2019: The World Bank IBRD-IDA.

Muhammad Yazid Ulwan,
Staff Riset di FP2SB/GAPKI-IPOA

Share:

Sabtu, 30 September 2017

Pemberantasan Korupsi dan Pentingnya Dukungan Publik

Tertanggal 29 September 2017 lalu, Setya Novanto atau yang sering dipanggil "Papah", salah satu tersangka kasus korupsi megaproyek E-KTP, memenangkan sidang putusan Praperadilan di PN Jakarta Selatan. 

Saya kebetulan menyempatkan hadir dan menyaksikan langsung sidang tersebut. Namun, tak banyak yang bisa saya perbuat. Hanya menggerutu, marah, heran sekaligus geram atas putusan hakim Cepi Iskandar yang memimpin jalannya sidang. Di tengah-tengah penjagaan ketat aparat keamanan, ditambah banyaknya para jurnalis dari media massa yang hadir, semakin memanaskan ruang sidang Oemar Seno Adji di Pengadilan Negeri Jaksel yang penuh sesak saat itu.

Apa yang saya bisa lakukan setelahnya?, 
menangis? tentu bodoh sekali rasanya. Apalagi cuma menyinyir sana-sini yang tiada arti. Mari, sudahi pertikaian guna menuju suatu cita besar kita: berantas kasus-kasus korupsi di Indonesia.

Kembali ke topik bahasan, Pemberantasan Korupsi dan Pentingnya Dukungan PublikSaya teringat sebuah pesan yang tidak asing di telinga saya, entah siapa yang pernah mengucapkannya, kurang lebih seperti ini;
"Memberantas tikus berdasi tak semudah memberantas tikus di ladang, apalagi jika sendirian. Maka kita harus menggalang kekuatan bersama untuk bisa memberantasnya".
Ilustrasi mural oleh: Komunitas Cicak (Cinta Indonesia Cinta Anti Korupsi)

Korupsi: Budaya yang Mengakar

Sudah sering terdengar pejabat-pejabat negara yang tersandung kasus korupsi. Mulai yang bermain angka dengan proyekannya, tukar guling, suap menyuap, sampai dengan cuci kaki uang. Tak terkira berapa banyak macam bentuk korupsi yang ada di dunia, pun dengan terma-terma yang berbeda memahami apa itu korupsi. Saya tidak ingin berlarut membahas arti "corruptio" dan kawanannya. Satu hal yang tidak boleh berubah: Korupsi tetaplah korupsi, ia kejahatan. Sekecil apapun.

Berbicara mengenai korupsi, saya berani jamin bahwa kita tidak ada yang pernah luput dari motif korup, atau dalam konteks yang lebih jelasnya adalah pada masa kini. Setidak-tidaknya kita pernah melakukan praktik curang dan menyalahi kelaziman. Itulah salah satu bentuk korup kita, maka tak jarang orang kemudian kerap mencari aman dengan diksi pengganti semacamnya. Kalau lah opini saya mengada-ada, saya kira tidak perlu berlelah diri menuliskannya.

Lantas, apa yang menjadikan korupsi seksi untuk diperbincangkan?
Jawabannya terletak pada siapa yang memainkan peranan tersebut. Perbedaan yang mencoloknya tentu dari posisi yang dimiliki oleh si pelaku. Semakin strategis dan besar nama yang diemban, semakin banyak pula publik membicarakannya. Di sini kita bisa menemukan relevansi pepatah: "semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang berhembus". Tentu, dalam konteks yang berbeda dari biasanya, ibaratkan posisi tinggi yang dimiliki koruptor ialah pohonan tinggi, dan pohonan itu diterpa angin kencang (badai) hingga goyah, atau bahkan tumbang. Saat itu lah pemberitaan besarnya tersebar.

Fantasi Kepentingan

Setiap tindakan adalah konsekuensi dari sebuah kepentingan. Secara gamblang, kita bisa mengidentifikasi kasus-kasus korupsi yang ada sebagai buah dari koruptor yang tengah gelap mata oleh bermacam kepentingan. Dari motif korupsi yang ada, selalu bermuara pada motif ekonomi dan politik—atau notabenenya kepentingan pribadi maupun kelompok.

Sebetulnya, kedua hal ini tidak begitu berbeda, motif ekonomi cenderung dipengaruhi adanya kepentingan untuk mencapai kemakmuran dari penguasaan faktor produksi dan finansial. Sebaliknya, motif kepentingan juga bisa membuat celah terbukanya jalan keputusan yang membuat pihak tertentu diuntungkan. Jika melihat kasus-kasus korupsi belakangan ini, banyak yang bermain adalah para politisi dan rekanan kerja yang sama-sama memiliki kepentingan. Di sisi yang berlainan, masyarakat hanya menjadi penonton dari aksi tersebut. Bisa jadi, masyarakat tidak mengetahui sama sekali.

Inilah pekerjaan kita, sebagai masyarakat. Tidak ada lagi yang dapat menghentikan praktik korup dari para koruptor kelas berat di negeri ini kecuali kekuatan dari publik (kita sendiri).

Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Di Indonesia, ada lembaga yang dibentuk sejak tahun 2002 untuk menangani secara khusus kasus korupsi, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kinerjanya sejauh ini cukup memuaskan publik, terhitung lebih dari Rp. 1,3 triliun uang hasil korupsi ditindak oleh KPK. Meskipun nada sumir sering terdengar karena baru sekitar 730 miliar rupiah yang berhasil KPK kembalikan kepada negara, namun kita tak boleh lupa, pencegahan juga sangat penting dan berdampak dalam menyelamatkan keuangan negara.

Dari data yang dipublikasikan KPK (kpk.go.id), diestimasikan sekitar Rp. 270 triliun uang negara telah berhasil diselamatkan dari potensi korupsi. Masalahnya memang tak sekadar besaran uang, namun pada efektivitas kerja dari lembaga anti korupsi ini dalam menggagalkan upaya korupsi. Wacana belakangan, santer terdengar rencana dari DPR untuk merevisi UU KPK melalui Revisi Undang-Undang No. 30 tahun 2002, tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Hal ini mengindikasikan adanya upaya pelemahan terhadap lembaga antirasuah ini. Meski sering kali, DPR berkilah adanya revisi justru untuk mengawasi kinerja KPK dan menguatkan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Pentingnya Dukungan Publik

Kita ketahui bersama, KPK bukan lembaga yang sempurna. Banyak kasus yang mandek hingga kini seperti; BLBI, Century, RS Sumber Waras, Reklamasi Teluk Jakarta, dan lain sebagainya. Namun, ketidaksempurnaan ini tak perlu dibahas berlarut-larut. Keterbatasan penyidik, alat bukti dan sumber daya penunjang lainnya menjadi penting untuk mengusut kasus-kasus yang ada. Dugaan semata atau intrik politis tidak banyak membantu penyelesaian masalah, karena semua dilakukan due process of law. 

Bila melihat kinerja KPK dari aspek kelembagaan, Laporan Keuangan KPK selalu memiliki Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Demikian juga dengan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi pemerintah (LAKIP), selama enam tahun sejak tahun 2010, KPK memperoleh Nilai A. Sebuah capaian yang baik dan tentunya patut diapresiasi. Selain itu, lembaga ini meraih penghargaan peringkat pertama Keterbukaan Informasi Badan Publik Tahun 2016 kategori Lembaga Non Struktural (LNS) dari Komisi Informasi Pusat (KIP). Tentunya, capaian yang baik ini tidak diraih begitu saja, sudah panjang perjalanan KPK hingga bisa mendapat predikat tersebut. Ini yang saya kira bisa dijadikan pegangan bagi publik untuk tetap bisa mempercayai, serta memberi dukungan pada KPK.

Mari berikan waktu pada semua pihak untuk bekerja secara maksimal, setidaknya publik juga dapat ikut serta mengawal. Tidak ada salahnya bila mendukung dan mendorong lembaga anti korupsi yang tetap konsisten setidaknya sampai dengan detik ini. Ingat pula bahwa public power masih sangat dibutuhkan untuk bisa menolong negeri ini dari upaya pendelegitimasian lembaga dan pihak-pihak yang anti terhadap korupsi.

Kita mesti banyak belajar, agar tidak melulu terkungkung pada perbincangan yang tiada habis. Semua berperan dan bertanggungjawab atas cita bersama: pemberantasan kasus-kasus korupsi secara tuntas di Indonesia. Semoga bukan mimpi di siang bolong.

Mahasiswa dan segenap rakyat, bersatulah!
___________________________________
Muhammad Yazid Ulwan,
Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM Fakultas Ilmu Administrasi UI 2017

Sumber:
1). Mural Komunitas Cicak (Cinta Indonesia Cinta Anti Korupsi), "Berantas Tikus!" https://image.slidesharecdn.com/muralpresentationedit-111221101357-phpapp02/95/mural-14-728.jpg?cb=1324462868
2). Anggaran KPK dan Uang yang Diselamatkan, http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/06/22/orxzcm-anggaran-kpk-lebih-besar-dari-uang-yang-diselamatkan
3). KPK Selamatkan Uang Negara, https://www.kpk.go.id/id/berita-sub/2641-kpk-selamatkan-uang-negara-rp-270-t
Share:

Selasa, 09 Agustus 2016

Kunjungan Semi-studi ke Bursa Efek Indonesia


Liburan semester genap kali ini memiliki banyak cerita bagi saya, baik yang sudah lewat maupun yang baru akan saya jalani.
Selain memang liburan semester kali ini yang bersamaan dengan momen ramadhan, idul fitri dan juga menjelang hari kemerdekaan, durasi libur yang bisa dibilang cukup lama menambah kesan gabut namun mengasyikkan karena dari situ lah muncul banyak ragam cerita.

Langsung ke topik yang saya singgung di atas,
ya!.. sebuah kunjungan gan n sis,
ke mana?
....
...
..
.
Bursa Efek Indonesia!
Sering disebut juga dengan IDX (Indonesia Stock Exchange),
beuh ntap jiwa! saya ngidam kesini sejak SMA, dan gak kepikir bakal kesampaian akhirnya, hehe

"ok, back to back" -Drake


Awalnya saya diajak ikut sebuah seminar dan sekolah mengenai pasar modal syari'ah oleh seorang teman SMA saya, namanya Arjuno (dulu anak IPA). sedikit cerita saja sekarang dia sedang menempuh kuliah di PNJ dengan program studi yang diambil yakni Adm Bisnis. (kita tahu anak IPA mah bebas)
Beberapa minggu sebelumnya, saya sebenarnya sudah merecanakan ingin ikut sekolah pasar modal (SPM) yang konvensional ke IDX, tapi waktu itu gak jadi, eh sekarang diajak temen yang syari'ah baru bisa benar-benar menyempatkan diri, emang mesti coba yang berkah lebih dulu mungkin ya gan n sis?

Tujuan kunjungannya apa bosqu?
Oke, jadi tujuan saya melakukan kunjungan kesana ya tentunya pengen cari tahu dong info mengenai apa bursa efek itu?, bagaimana orang-orang disana bekerja, lalu lihat-lihat sambil mata melongo ada grafik tab segede gaban beserta komponen pendukung analisa bursa yang mutakhir dan up to date banget.
Namanya saja sudah disetarakan dengan standar global layaknya NYSX (New York Stock Exchange), LSE (London Stock Exchange) dan lain-lainnya. Tentunya dengan penyematan label demikian standar operasional di IDX ini tak boleh sembarangan dan gak jauh berbeda sama yang sudah maju di luar sana.

Lanjut ngetrip hari H, saya berencana berangkat naik motor karena menghindari macet dan memang sudah terbiasa bawa motor ketimbang si gerobak besi yang sim nya entah sudah lumutan di dompet.

Kembali ke tanggal 19 Juli 2016 kemarin, dimulai pada pukul 06.00, saya sempatkan diri sarapan setelah rapih dan menyempatkan untuk sekadar searching rute naik motor ke arah Sudirman. Bukan saya gak tahu atau buta jalan, tapi saya dengar ada pengalihan jalan bagi para bikers yang ingin ke arah Central Business District atau jantungnya kota Jakarta itu, karenanya saya cari supaya gak nyasar.

Perjalanan keluar dimulai dari rumah saya di kawasan Jurangmangu Barat, Pondok aren Tangerang selatan tepat pukul 07.00 pagi sesuai janji dengan teman saya (Arjuno). saya bahkan cukup ngaret mengingat hari itu hari libur yang super mager bagi saya untuk melangkah jalan ke luar rumah, tapi mengingat sudah bayar biaya registrasi sebesar 100 ribu rupiah yang tidaklah sedikit bagi anak kosan yang libur dirumah, seketika itu urung niat males-malesan dan cepet-cepet capcus buat ketemuan di daerah Ciledug, Tangerang.

Sesampainya di Ciledug, ternyata saya belum menemui kawan saya itu, begitu saya hubungi dia ada di sebuah kios depan Dian Plaza daerah pasar lembang, haha fix waktu itu saya merasa banget ada miskomunikasi sebelumnya, dan ya.. maka terjadilah.
Lalu kami memutuskan untuk pindah meetpoint ke daerah Kreo (depan univ. Budi Luhur). Untuk kelancaran perjalanan yang dikejar tenggat rundown mulai pukul 09.00, saya coba berhenti di sebuah showroom mobil untuk memudahkannya. Setibanya di sana, lagi-lagi saya tiba terlalu cepat meski berangkat udah di ngaretin pake banget wkwk ((jiwa anak kosan)).

Akhirnya, setelah menunggu kurang lebih 15 menit, Arjuno tiba dan gak pake banyak cing-cong saya cus ke Sudirman.
Sepanjang jalan banyak galian dan tiang pancang megaproyek MRT yang menyita lahan dan membuat kemacetan semakin parah. namun saya paham, megaproyek ini bukan main-main, Jakarta dan Palembang sedang gencar percepatan pembangunan infrastruktur, diestimasikan proyek ini akan sangat bermanfaat bagi moda transportasi publik di Jakarta dan Indonesia khususnya guna persiapan mobilisasi para atlet dan turis negara-negara di Asia pada pagelaran Asian Games 2018 mendatang.

Satu jam perjalanan, belum sampai senayan. "duh, masih jauh banget nget.." gumam saya lirih.
benar saja, jalan macet memang selalu jadi musuh bagi bikers penglaju macem saya yang melintas wilayah ring urban dan suburban ibukota.
sempat nyasar beberapa kali sampai saya menepi untuk ngasih minum kuda saya (baca: bensin motor) sembari searching lokasi via Waze dan Gmaps dan Juno dengan sabar menunggu saya di tepi SPBU.

"Ok ketemu!, mayan deket nih" pungkas saya dalam hati.
Selepas kuda minum hingga fulltank, saya putar arah bersama Juno ke daerah CBD Sudirman seperti tadi, dan sedikit mengarah ke senayan.
Alhamdulillah.. akhirnya gedung itu mulai nampak di mata ketika saya melihat logo yang familiar. Lingkaran merah berkelir buritan yang entah menyerupai huruf X atau tanda silang.


Gedung dan logo BEI / IDX
image by: indonesia-investments.com




Kami parkir motor di belakang gedung IDX, seberang Panin sekuritas pusat dan dekat dengan tempat rekreasi edukasi indoor anak KidZania.

Masuk ke dalam gedung utama, tiba di tower 2 kami langsung disalami (baca: disambut) mas dan bapak gagah security IDX yang kemudian menanyakan maksud kedatangan kami.

"Mas, ada perlu apa ya?"
"Ini pak, emm mau ikut seminar saham"
"Sekolah pasar modal ya?"
"Ah.. Iya pak! hehe"
"Baik, mas masuk dulu, body checking, silahkan barang bawaanya taro disini saja"

Setelah jelas dan diperbolehkan, barang bawaan kami selanjutnya melalui tahap screening metal detector. Yang unik sekaligus mengagumkan bagi saya adalah sistem keamanannya yang sangat ketat dan komperhensif, bahkan bagi pekerjanya sekalipun (yang saya lihat).
Terhitung sebanyak 3 kali saya melewati proses pemeriksaan dan tas bawaan juga di rogoh sampai saku-saku kecilnya.

Sesampainya di bagian dalam, saya mengambil kartu tanda pengenal bertulis "visitor" yang ditujukan khusus bagi para pengunjung. Kartu itu didapat dengan menukarkan satu dokumen pribadi sampai kunjungan selesai. Saya menukarnya dengan SIM tipe A saya yang hampir tidak pernah digunakan bahkan untuk dikeluarkan sekalipun. dang!.

Selanjutnya kami diarahkan ke lantai 1 dari groundfloor. Jadi di gedung megah nan canggih ini hitungan lantai satu nya dimulai dari lantai setelah GF (eh?) maksudnya dari lantai GroundFloor (GF) lalu 1,2,3 dan seterusnya.

Di lantai dua sudah ada meja registrasi untuk peserta. Benar saja, saya dan Juno telat satu jam lebih dari jadwal semestinya. Tapi, niat kami sudah sampai, raga kami juga sudah, kenapa mesti khawatir untuk sebuah pengalaman dan ilmu bermanfaat? tidak ada kata terlambat bukan? *eaapencitraan

Singkat cerita, kami masuk setelah menyerahkan beberapa dokumen pendukung. Ternyata kondisi di dalam sudah cukup ramai meski ada beberapa bangku yang kosong, Saya dan Juno duduk di baris kedua dari belakang. Di dalam ruangan auditorium ada sebuah layer proyektor dan dua buah led screen di tiap sudut untuk melihat slide pemateri.

Led screen img by : camera




Di sana kami disuguhi banyak hal. Mulai dari dasar pengetahuan investasi, macam-macam portofolio pasar modal (saham,obligasi,reksadana) yang tentunya berdasarkan asas Syari'ah karena saya ambil kelas SPM syari'ah.

Sederhananya, saham ternyata diperbolehkan dalam islam. Kata SAHAM saja diambil dari bahasa arab yakni Ashamun/sahmun' yang berarti "andil" atau "bagian". Seperti artinya, saham berarti ikut ambil bagian dalam sebuah unit usaha dengan penyertaan modal sebagai buktinya.

Dua jam berjalan, saya sudah cukup memahami konsep saham yang sesuai syari'ah dan diperbolehkan untuk transaksi jual-beli, pertama adalah adanya akkad Syirkah, syarat berikutnya dalam jual-beli saham syari'ah adalah saham yang hanya melantai di sektor publik dan non perbankan konvensional maupun industri dengan eksternalitas negatif (rokok, miras, dsb).

Pukul 12.00 waktu ISHOMA, saya dan Juno istirahat sebentar untuk menunaikan sholat Dzuhur.
Setelah 15 menit berselang, saya kembali ke ruangan. Saya yang sedari tiba dalam keadaan perut lapar selama menyimak materi tidak begitu fokus melihat atau mendengarkan. Syukur Alhamdulillah, kami dapat konsumsi yang cukup memuaskan. Sebuah nasi box dan snack kue tak lupa juga air mineral. mantap lah mz mb panitia :') u da real MVP!


Masuk sesi kedua (siang). Saatnya waktu praktek.
Kami diajarkan sebuah aplikasi dari panin sekuritas untuk login akun yang mana untuk bisa membukanya harus daftar melalui sekuritas lewat form atau datang langsung ke bank bersangkutan. Kemudian berbeda dengan sistem bank, saham memiliki rekening tersendiri berupa Rekening Dana Nasabah (RDN). Kegunaanya sama menampung uang, namun RDN hanya diperuntukkan bagi pemegang saham yang akan bertransaksi jual dan beli.
Waktu berjalan, mulai dari cara analisa teoritis dan teknikal sudah diberikan.
waktu menunjukkan pukul 16.00, sesi kedua selesai ditandai juga dengan berakhirnya rangkaian acara Sekolah pasar modal Syari'ah dari IDX pada gelombang ke-11 ini.

Begitu banyak pengalaman dan pembelajaran yang saya dapatkan. Sama halnya dengan melakukan aktivitas ketika perkuliahan, bedanya hanya waktu pada saat liburan. yup, ini baru #ProductiveHolidays gue.



Mungkin cukup sekian sepenggal kisah perjalanan saya dan teman saya dalam rangka kunjungan rekreasi dan edukasi ke bursa terbesar di Indonesia (Diluar bursa Surabaya). Sebagai penggerak roda perekonomian yang mempunyai peran vital dalam mengelola dana asing dan domestik, maka sudah barang tentu hal ini perlu dikembangkan bagi para pemuda-pemudi, teman-teman sekalian dan juga generasi-generasi penerus bangsa agar potensi ekonomi negeri kita bersama sumberdaya manusianya tidak kalah dan tergerus perkembangan zaman. Sekian.

Nubitol calon ESMUD (Aamiin) :p
#Antekkapital #KapitalisSyariah

Share:
ASSALAMU'ALAIKUM.. SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. AMBIL MANFAAT, BUANG YANG KURANG BERKENAN :)

Hit and Visitors

@yazid.ulwan / 2022. Diberdayakan oleh Blogger.

Kita dan Bangsa!

Kita dan Bangsa!
cintailah negerimu, bagaimanapun kesenanganmu dengan budaya di negeri sana, pastikan darah juang selalu lekat dihatimu

Labels and Tags

Labels

Catatan Pinggir

Menulis dalam sebuah wadah yang baik demi kebermanfaatan, ialah suatu 'kewajiban' bagi saya meski sepatah-dua patah kata saja. --Jejak--